Hutan Satwa
SHARE :

Datuk Belang di Semenanjung Kampar: Kita Masih Punya Waktu, Tapi Tidak Banyak

28
10/2026
Kategori : Cerita dan Berita / Informasi dan Berita
Komentar : 0 komentar
Author : admin@hutansatwa.org


Datuk Belang di Semenanjung Kampar: Kita Masih Punya Waktu, Tapi Tidak Banyak

Ketika kejadian negatif terjadi di satu wilayah, biasanya ada tiga pilihan yang bisa dilakukan manusia: membiarkan keadaan memburuk, menyingkir, atau menghadapinya bersama-sama. Dua pilihan pertama tidak menyelesaikan apa-apa. Yang ketiga memang nampak lebih berat, tapi secara empiris, ada harapan untuk meminimalkannya.

Begitupun terkait interaksi negatif antara manusia dan harimau sumatera di Lanskap Semenanjung Kampar, Riau. Pilihan itu kini ada di depan parapihak yang berkegiatan di lanskap, ketika interaksi negatif antara manusia dan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) meningkat dalam beberapa tahun terakhir.. Setidaknya ada empat interaksi negatif menonjol tercatat sejak Januari 2026 di Semenanjung Kampar dan sekitarnya. Secara rinci, 2 orang terluka di area Serapung dan Teluk Lanus, selanjutnya 2 orang meninggal di Pelalawan akibat interaksi negatif yang meningkat antara manusia dan harimau.

Rumah yang menyusut

Semenanjung Kampar membentang sekitar 735.091 hektare, di antara Sungai Kampar di selatan dan Sungai Siak serta Selat Panjang di utara. Di timur, aliran-aliran itu bertemu dan membentuk semenanjung berbentuk baji. Di barat, endapan gambut berakhir dan berganti tanah mineral. Kawasan ini menyimpan cadangan karbon yang sangat besar, dan flora serta faunanya sungguh kaya. Harimau sumatera hidup bersama byuku, mentok rimba, kucing tandang, tapir, beruang madu, semuanya satwa yang terancam punah.

Tutupan hutannya terus berkurang. Dalam tiga dekade (1990–2020), hutan alam di Lanskap Semenanjung Kampar menyusut dari 723.895 hektare menjadi 433.395 hektare, atau hilang sekitar 40 persen. Penyebabnya adalah pembukaan lahan, pengeringan (drainase) gambut, dan kebakaran hutan dan lahan gambut. Jika lahan gambut dikeringkan, ia tidak lagi menyimpan air dan karbon, begitupun tidak banyak manfaat secara ekologis dalam kondisi seperti ini. Maka, menjaga kelestarian hutan gambut di Semenanjung Kampar menjadi keharusan jika kita tidak ingin lanskap ini menuju kerusakan.

Kebakaran gambut yang berulang di Sumatera dan Kalimantan selama dua hingga tiga dekade, termasuk tahun 2026 ketika Indonesia dilanda fenomena El Niño yang panjang ibarat tak berkesudahan, sudah cukup menjadi pelajaran mahal. Semenanjung Kampar sebagai lanskap konservasi harimau yang diakui dunia internasional tengah menuju jalur yang didambakan sebagai area hutan gambut kaya karbon dan berlimpah biodiversitas. Bagaimanapun, perlu kerja keras parapihak untuk mencegah terjadinya pembukaan, pengeringan hutan gambut maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lanskap ini.

Berapa yang tersisa?

Pada 1970-an, populasi harimau sumatera diperkirakan sekitar seribu ekor. Angka itu berasal dari survei kuesioner, jadi lebih tepat dibaca sebagai gambaran kasar. Pada 2008, IUCN memperkirakan 441–679 individu. Estimasi terbaru KLHK melalui analisis kelangsungan hidup populasi (PVA) mencatat 603 individu di 23 kantong habitat. Forum HarimauKita pada 2025 memperkirakan sekitar 568 individu di 23 lanskap.

Kabar baiknya, sebagian lanskap masih menopang populasi yang cukup sehat. Survei kamera jebak di Ekosistem Leuser (2023–2024) mengidentifikasi 27 individu.

Pertanyaan yang perlu kita jawab untuk Semenanjung Kampar: analisis kelangsungan hidup umumnya menyebut populasi perlu setidaknya 25–50 harimau dewasa yang mampu berkembang biak agar terhindar dari depresi perkawinan sedarah dan ketidakpastian demografis dalam satu abad. Apakah Semenanjung Kampar sanggup menopangnya? Jawabannya hanya bisa datang dari penghitungan populasi yang berbasis sains dan bukti di habitat gambut. Selama itu belum ada, kita sepertinya bekerja dengan dugaan.

Mengapa konflik terjadi

Di Sumatera, interaksi negatif manusia dan harimau paling kerap terjadi di lanskap terganggu tingkat menengah: hutan sekunder, tepi kawasan lindung, dan hutan serbaguna tempat manusia dan harimau berbagi ruang. Di dalam kawasan lindung, interaksi negatif jauh lebih jarang terjadi.

Semenanjung Kampar adalah contoh yang pas untuk lanskap seperti itu. Ia mosaik kawasan lindung, perkebunan dan hutan masyarakat serta pemukiman yang berada pada tepian lanskap. Ketika hutan lebat mengerucut, harimau terdesak ke pinggiran kebun, tempat ia bertemu ternak, pekerja, maupun anak-anak. Pembunuhan balasan dan jerat kawat hampir selalu menyusul usai interaksi negatif terjadi. Studi di Sumatera bagian tengah menunjukkan harimau sangat menyukai hutan dan jauh lebih jarang memakai kebun akasia dan sawit dibandingkan ketersediaannya. Kehadirannya berkorelasi positif dengan luas hutan, dan negatif dengan kedekatan pada permukiman.

Tekanan serupa terlihat secara global. Menurut Shao dkk. (2026), lebih dari separuh Lanskap Konservasi Harimau (TCL) di dunia berada dalam radius 5 km dari jalan raya. Perburuan liar di sana menurunkan populasi mangsa lebih dari 20 persen.

Fragmentasi memperparahnya: koridor jelajah terputus, aliran gen antarpopulasi terhenti, dan kelompok yang terisolasi makin rentan terhadap perkawinan sedarah, kegagalan reproduksi, dan penyakit. Habitat yang terpecah juga berarti mangsa berkurang dan perebutan wilayah meningkat, dan yang paling terancam adalah anak harimau dan individu tua. Kajian pada 76 lanskap konservasi harimau (TLC) dalam kurun 2000–2020 juga mencatat perambahan dan fragmentasi hutan yang meningkat, dengan 64,39 persen lanskap diteliti berada dalam kategori berisiko (conservewildcats.org).

Apa yang bisa dikerjakan bersama

Ada banyak tantangan dalam konservasi harimau sumatera. Gambaran ini berat, tetapi tidak berarti buntu. Ada beberapa hal yang jelas arahnya dan bisa dilakukan:

Koeksistensi dimulai dari warga. Ia hanya berjalan bila masyarakat tidak terlibat mencelakai harimau, dan bila pesan dari tokoh desa dan masyarakat terkait kearifan lokal masyarakat terhdap harimau tidak ditinggalkan. Hal ini tentu menjadi lebih bertahan lama daripada sekadar papan imbauan.

Kerja yang perlu berbasis bukti di lanskap, seperti:pemantauan rutin terhadap satwa liar termasuk harimau; patroli pengamanan kawasan; pencatatan yang rapi pada setiap interaksi negatif manusia dan harimau yang terjadi, sehingga  keputusan tidak diambil berdasarkan kesan semata; dan edukasi kepada parapihak serta menyebarluaskan praktek pengelolaan yang baik untuk mitigasi interaksi negatif manusia dan harimau.

Pemindahan harimau sebagai pilihan terakhir. Bila harimau terjebak di habitat kecil dan terfragmentasi serta terancam dibunuh warga, ataupun mengancam menyakiti warga, maka memindahkannya ke habitat yang aman, tentu dapat menyelamatkan nyawanya maupun nyawa warga. Tetapi itu tindakan darurat. Fokus utama tetap menjaga agar habitat tidak terus terpecah (fragmentasi).

Peluang ekonomi bagi masyarakat tempatan. Kajian ilmiah menunjukkan masyarakat yang punya alternatif ekonomi nyata dan hak hukum mengelola hutan cenderung menjadi penjaga habitat yang paling efektif dalam jangka panjang. Serta dapat diandalkan untuk tidak berburu satwa liar.

Tata kelola. Pada akhirnya, nasib harimau Lanskap Semenanjung Kampar sangat ditentukan oleh tata kelola terkait habitat harimau dimana mereka berkembang. Indonesia perlu menegakkan komitmen dan peraturan yang sudah ditulis. Perusahaan swasta, korporasi internasional, konsumen, dan pemerintah perlu meningkatkan komitmen serius perlindungan pada satwa liar yang terancam punah ini.

Semenanjung Kampar sudah lama memberi pelajaran ekologi lewat konversi lahan, kebakaran, hutan gambut yang menyusut, dan interaksi negatif dengan satwa liar yang berujung duka. Pelajaran itu masih bisa kita pakai selama hutan gambutnya tetap basah dan tatkala Datuk Belang masih punya ruang untuk berkelana. Waktunya tidak panjang, tetapi cukup jika semua sudi bekerja bersama.

(referensi dari berbagai sumber)

Landscape Conservation & Stakeholder Engagement, PJHS.

Berita Lainnya



0 0 votes
Article Rating

Tinggalkan Balasan

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x